Tip Sehat

Ini Dia Cara Mencegah Sakit Kuning

Di samping menjaga kebersihan, hepatitis A dapat dicegah dengan imunisasi.

Ini Dia Cara Mencegah Sakit Kuning
Kompas.com
Ilustrasi sakit kepala. 

Oleh dr Samsuridjal Djauzi

Anak saya laki-laki (19) sekarang kuliah, aktif berolahraga. Sebulan yang lalu dia sakit, merasa lemas, dan demam. Demam tidak tinggi, tetapi jika makan ada rasa mual. Kencingnya berwarna merah. Saya membawanya ke dokter. Setelah diperiksa laboratorium, anak saya dinyatakan menderita hepatitis (sakit kuning). Jenis hepatitisnya adalah hepatitis A.

Pemeriksaan laboratorium hasil fungsi hatinya amat tinggi SGOT dan SGPT-nya lebih dari 1.000 unit. Bahkan bilirubinnya sampai 6. Dia diberi obat untuk memperbaiki fungsi hati saja. Tidak diberi antibiotika atau obat pembunuh virus. Dia dirawat sekitar 16 hari. Di rumah istirahat lima hari baru boleh kuliah lagi. Pada waktu kuliah sebenarnya bilirubinnya masih 2, namun dokter mengizinkan agar tidak tertinggal pelajarannya, dengan nasihat agar jangan terlalu lelah.

Apakah sakit kuning disebabkan karena anak saya kegiatannya berlebih? Setahu saya ada hepatitis A, B, dan C. Manakah jenis hepatitis yang berbahaya? Benarkah jika sudah terkena hepatitis A biasanya tidak akan terkena hepatitis A lagi. Bagaimana dengan hepatitis B dan C apakah masih ada risiko tertular. Bagaimana cara mencegah penularan hepatitis A, B, maupun C? Terima kasih atas penjelasan dokter.

M di J

Hepatitis A ditularkan melalui makanan dan minuman yang tercemar virus. Dulu memang hepatitis A banyak dijumpai pada anak-anak. Namun berkat perbaikan kebersihan, masyarakat lebih mudah memperoleh air bersih maka sekarang cukup banyak anak-anak yang belum terpajan virus hepatitis A. Karena belum terpajan maka mereka belum punya kekebalan terhadap virus hepatitis A.

Jika pada waktu dewasa terpajan virus hepatitis A, mereka dapat jatuh sakit. Acapkali hepatitis A ditemukan pada kelompok orang seperti siswa sekolah atau penghuni asrama. Gambaran klinis hepatitis A pada orang dewasa lebih hebat dibandingkan dengan anak-anak. Demam, rasa mual, mata kuning, sering lebih menonjol. Waktu yang dibutuhkan untuk pemulihan cukup lama sehingga dapat mengganggu sekolah atau pekerjaan.

Hepatitis B dan C bukan ditularkan melalui makanan dan minuman, tetapi melalui cairan tubuh. Penularan melalui cairan tubuh dapat terjadi melalui hubungan seksual, dari ibu ke bayinya, melalui transfusi darah atau memakai jarum suntik bersama. Pada yang menggunakan narkoba suntikan, mereka biasanya menggunakan satu jarum suntik bersama karena itu berisiko tertular hepatitis C dan HIV. Sebenarnya mereka juga berisiko tertular hepatitis B, namun rupanya hepatitis C lebih sering dijumpai. Pada kelompok pengguna narkoba suntikan dulu sewaktu mereka masih menggunakan jarum bersama kejadian hepatitis B sekitar 18 persen, hepatitis C 70 persen, dan HIV sekitar 40 persen.

Sekitar 10 persen penduduk Indonesia pernah terinfeksi hepatitis B, jadi kekerapannya tinggi. Sekitar 5 persen dari mereka yang tertular hepatitis B penyakitnya dapat menjadi kronik. Jika tidak diobati dengan baik dalam waktu lama (sekitar 20 tahun ) dapat menjadi sirosis hati atau kanker hati. Kekerapan hepatitis C sebenarnya rendah sekitar 0,8 persen, tetapi sebagian besar hepatitis C berisiko menjadi kronis sehingga jumlah penderita hepatitis C kronik di negeri kita dapat mencapai satu juta orang. Jumlah ini hampir sama dengan jumlah penderita hepatitis B kronik.

Obat dan pencegahan
Baik hepatitis B kronik maupun hepatitis C kronik sudah ada obatnya, tetapi masih mahal dan pengobatannya memakan waktu lama. Meski belum ada obat anti hepatitis A, tetapi hepatitis A pada umumnya akan sembuh tidak ada yang menjadi kronik. Meski begitu dampak hepatitis A cukup merugikan, penderita mengalami gejala klinis dan harus istirahat dalam waktu yang cukup lama.

Bagaimana mencegah hepatitis A? Kita harus mencegah agar makanan dan minuman kita tidak tercemar hepatitis A. kita memerlukan air bersih. Kenyataannya belum semua penduduk dapat memperoleh air bersih. Selain itu perilaku kita juga harus menjaga agar kita tak terpajan hepatitis A. Jika akan makan dan minum jangan lupa cuci tangan, pilihlah makan dan minuman yang bersih, cara mencuci alat makan dan minum juga harus bersih. Sering kali jajanan di pinggir jalan menggunakan air cucian satu ember digunakan terus-menerus. Jika air cucian tersebut tercemar hepatitis A tentu banyak orang yang jajan akan tertular.

Di samping menjaga kebersihan, hepatitis A dapat dicegah dengan imunisasi. Imunisasi hepatitis diberikan dalam dua kali suntikan dengan jarak enam bulan. Hepatitis B juga dapat dicegah melalui imunisasi. Semua bayi yang baru lahir mendapat imunisasi hepatitis B untuk mencegah penularan dari ibu yang membawa virus hepatitis ke bayinya. Namun untuk hepatitis C sampai saat ini belum ada vaksinnya sehingga pencegahan yang utama tetap mencegah kontak dengan cairan tubuh orang lain. Remaja bila melakukan piknik atau kamping jangan menggunakan pisau cukur bersama.

Juga harus diingat hubungan seksual juga dapat menularkan hepatitis B dan C. Seorang yang mengalami penyakit hepatitis A akan mempunyai kekebalan terhadap hepatitis A, tetapi kekebalan tersebut tidak dapat mencegah penularaan hepatitis B atau hepatitis C. Jadi dapat saja mereka yang telah menderita hepatitis A kemudian menderita hepatitis B atau C.

Imunisasi hepatitis A dan B dapat dilakukan terpisah, tetapi juga dapat diberikan secara bersamaan. Pada remaja yang belum punya kekebalan pemberian imunisasi hepatitis B dilakukan tiga kali yaitu suntikan kedua setelah satu bulan dan suntikan ketiga setelah enam bulan suntikan pertama. Sementara imunisasi hepatitis A hanya dua kali, suntikan kedua enam bulan setelah suntikan pertama. Jika akan diberikan secara bersamaan (sekarang ada vaksin hepatitis A yang dicampur hepatitis B) maka suntikan diberikan tiga kali mengikuti cara pemberian vaksin hepatitis B.

Editor: Andy Pribadi
Sumber: KOMPAS
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved