Lukisan Satrio Piningit Karya Jeihan di Museum Nasional

Di tengah suasana Pilpres 2014, pelukis Jeihan Sukmantoro secara khusus membuat lukisan yang diberi judul Satrio Piningit.

Lukisan Satrio Piningit Karya Jeihan di Museum Nasional
Warta Kota/Ign Agung Nugroho
Pelukis Jeihan Sukmantoro mendapuk Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Bidang Kebudayaan, Wiendu Nuryantie sebagai obyek lukisannya, saat pembukaan pameran tunggalnya di Museum Nasional, Jakarta Pusat pada 26 Juni - 5 Juli 2014. 

WARTA KOTA, JAKARTA - Di tengah rasa penasaran masyarakat tentang siapa yang akan memimpin negeri ini, pelukis Jeihan Sukmantoro secara khusus membuat lukisan yang diberi judul Satrio Piningit.

Lukisan 'Satrio Piningit' ini dipamerkan bersama 44 lukisan karya Jehan lainnya dalam pameran tunggalnya bertajuk Reflesi & Re-Imaji Indonesia di Museum Nasional, Jakarta Pusat pada 26 Juni - 5 Juli 2014.

Jeihan mengatakan lukisan Satrio Piningit itu dikerjakan awal Juni 2014 di studionya di Padasuka Bandung, Jawa Barat. Prosesnya teknisnya pendek sekitar 30 menit.

Terkait lukisannya itu, Jeihan tidak memihak salah satu calon presiden. Bagi dia, di tangan siapapun, sang presiden harus menyadari bahwa esensi Indonesia yang paling penting adalah ke-bhinekaan.

"Satrio Piningit bukanlah berujud fisik, tetapi sebuah esensi mengenai karkater yang saling menunjang antara satu dengan lainnya," kata Jeihan.

Sementara itu menurut kurator Mikke Susanto, lukisan 'Satrio Piningit' ini menandai betapa Jeihan masih peduli terhadap nasib bangsa.

Lukisan tersebut berfigur dua orang dalam personifikasi khas hitam, tinggi, berpasangan, melakukan perjalanan dengan ditemani angin.

Karyanya ini berkisah mengenai sosok dan karakter gabungan antara realitas pikir dan realitas spiritual.
"Di situ terlihat bagaimana sikap hidupnya yang tak memungkiri adanya perbedaan, dualisme, wilayah abu-abu dan kemanunggalan antara berbagai hal," kata Mikke.

Jeihan, pria kelahiran Solo, 26 September 1938 ini merupakan salah satu pelukis kenamaan Indonesia. Lukisannya bercorak figuratif dengan obyek manusia bermata hitam.

"Mata hitamnya sering dinisbatkan sebagai simbol ikonik dengan beragam arti. Bahkan bagi Jeihan, ia mendapatkan sebuah visi, bahwa mata hitam baginya adalah sebuah realitas masa depan," kata Mikka.

Penulis: Ign Agung Nugroho
Editor: Hertanto Soebijoto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved