Ini Cara Yesi Herawati Keruk Rupiah dari Bandeng

Bagi Yesi dan keluarganya, ikan bandeng merupakan menu istimewa yang wajib dihidangkan saat hari-hari besar

Ini Cara Yesi Herawati Keruk Rupiah dari Bandeng
Warta Kota/Ign Agung Nugroho
Yesi Herawati dan bandeng olahannya. 

WARTA KOTA, CIPAYUNG - Produk usaha boleh sama, tapi dengan kreativitas bisa menghasilkan nilai yang berbeda. Begitu juga yang dilakukan oleh Yesi Herawati (39).

Berawal dari ketrampilannya sebagai ibu rumah tangga  meracik ikan bandeng, sekarang ibu dua anak tersebut terbilang sukses merintis bisnis bandeng olahan  dengan nama label usahanya,  Bandeng Rorod dengan tagline,  Bandengnya Orang Bekasi.

Lalu seperti apa liku-liku perempuan kelahiran Kerawang, Jawa Barat  27 Agustus 1974 itu mengawali usahanya mengolah ikan bandeng isi tanpa duri itu?

Sebagai warga Bekasi yang hidup di lingkungan keluarga Betawi, bagi Yesi dan keluarganya, ikan bandeng merupakan menu istimewa yang wajib dihidangkan saat hari-hari besar.

"Bandeng rorod ini  resep keluarga dari orangtua saya. Rasanya juga khas  rasa bumbu orang Bekasi, gurih dan ada pedesnya," kata Yesi ditemui Warta Kota saat mengikuti pameran wirausaha di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Cipayung, Jakarta Timur baru-baru ini.

Dan cara Yesi  mengolah  ikan bandeng segar sebagai bahan dasar menu istimewa keluarganya  itu dengan cara merorod alias mencabuti duri ikan tersebut.

"Ikan bandeng kan banyak durinya biasanya banyak orang melakukan dengan cara dipresto, tapi kalau ini ditarik durinya  dulu durinya istilah orang Betawi bilang dirorod. Dari situ  baru diolah pakai bumbu khas Bekasi," kata Yesi.

Perempuan berhijab ini memberanikan diri menseriusi jualan bandeng rorod olahannya pada tahun 2011. Awalnya, ia hanya menerima pesanan dari saudara dan teman-teman di sekitar lingkungan tempat tinggalnya di Perumnas III Bekasi, Jawa Barat.

Jatuh sakit
Sekarang Yesi sudah bisa memetik keuntungan dari usaha bandeng rorodnya. Namun, diakui nya, saat merintis usaha ini sempat mengalami masa sulit. Pasalnya, dengan keterbatasan modal iapun harus mengolah bandeng dengan peralatan seadanya.

"Kendala dipengolahan karena agak susah dan agak rumit, awal-awal saya masih pakai manual banget, perabot  apa yang ada di rumah aja.   Waktu itu pernah dapat pesanan 100 ekor. Tiga hari baru selesai ngerjainnya. Abis itu saya malah sakit seminggu. Jadi untungnya cuma habis buat berobat," kenang Yesi.

Meski demikian, tak membuat Yesi menyerah. Setelah sembuh dari sakit, iapun tetap menerima order dan sedikit demi sedikit keuntungan ia belikan peralatan untuk mengolah bandeng.

"Alhamdulillah waktu itu dari modal Rp 1 juta, saya kumpulin bisa inves alat-alat.  saya akhirnya bisa beli  mesin pemisah durinya, beli vakumnya juga. Jadi bisa produksi banyak," kata Yesi.

100 agen di Jabodetabek
Saat ini usaha bandeng rorod Yesi sudah berjalan tiga tahun. Usahanya pun terus berkembang. Sekarang,  selain ia telah memiliki toko sendiri  di rumahnya dan ia juga telah memiliki 100 agen yang tersebar di Jabodetabek  yang direalisasikan dengan cara bermitra usaha.

Yesi pun tak memungkiri sekarang ia sudah bisa menikmati dari kegigihannya menekuni bandeng olahannya itu. Apa yang sudah ia wujudkan dari hasil jerih payahnya itu?

"Yang jelas saya memulai dari ibu rumah tangga yang awalnya buat tambah-tambah uang dapur. Tapi sekarang Alhamdulillah  secara finansial saya  sudah bisa mandiri," kata istri dari Afif Ridwan yang saat ini suaminya bekerja di sebuah yayasan sosial.

Tiga tahun merintis usahanya ini, ada banyak hal yang bisa dipetik Yesi hingga bisa seperti sekarang.

"Yang penting kerja keras, jaga kualitas, harus yakin sama niat kita bahwa suatu saat kita bisa, dan juga harus ikhtiar," pungkasnya.

Penulis: Ign Agung Nugroho
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help