Hitung Cepat

Pengusaha Ketar Ketir dengan Quick Count

Hasil hitung cepat Pemilu Legislatif 2014 yang dirilis berbagai lembaga riset mengejutkan sejumlah pengusaha.

Pengusaha Ketar Ketir dengan Quick Count
KOMPAS.COM/Sandro Gatra
Ketua Umum Apindo Sofyan Wanandi 

WARTA KOTA, PALMERAH - Hasil hitung cepat Pemilu Legislatif 2014 yang dirilis berbagai lembaga riset mengejutkan sejumlah pengusaha. Persentase kemenangan PDI Perjuangan (PDIP), disusul Partai Golkar dan Partai Gerindra yang terpaut tipis justru mengkhawatirkan dunia usaha.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi, hasil hitung cepat Pemilu Legislatif 2014 menandakan situasi ketidakpastian akan muncul di Tanah Air. Sebabnya, untuk memimpin Indonesia dibutuhkan kerja sama dengan beberapa partai di parlemen.

"Harus dipimpin oleh orang yang bisa bekerja sama. Tapi secara teknis tentu sulit. Apalagi kalau (partai) parlemen lebih banyak, pasti lebih besar menimbulkan ketidakpastian. Itu yang terjadi dari pengalaman 2009," ujar Sofyan di Jakarta, Kamis (10/4/2014).

Menurutnya, koalisi gemuk sangat menyusahkan pengusaha. Keputusan-keputusan terkait ekonomi cenderung lambat atas keberadaan koalisi yang gemuk. "Keluar Undang-undang yang saling overlaping, menimbulkan ketidakpastian usaha, tidak ada kejelasan anggaran belanja dan infrastruktur," ucapnya.

Sofyan menengarai PDIP akan berkoalisi dengan Golkar. "Ditambah PKB, itu sudah cukup menjadi koalisi. Enggak perlu politik dagang sapi," ujarnya.

Ia menyebut, Gerindra yang mengusung Prabowo Subianto sebagai calon presiden ditengarai akan membentuk koalisi sendiri. Begitu juga dengan partai-partai tengah. Namun, bila itu terjadi, politik dagang sapi akan kembali berulang.

Wakil Ketua Apindo Anton J Supit senada dengan Sofyan Wanandi. Ia mengatakan, hasil Pemilu Legislatif 2014 di luar dugaan. PDIP yang diperkirakan menyapu suara hingga 27 persen justru hanya mengantongi suara kurang dari 20 persen. "Harapan kita ada satu partai yang dominan. Sehingga politik dagang sapi hilang," katanya.

Ia mengkhawatirkan politik dagang sapi berulang. Dan akhirnya, sektor strategis dipegang orang partai dengan kompetensi minim. Pengamatan Anton, selama sepuluh tahun terakhir, sektor strategis merupakan tumbal dari politik daging sapi.

Sebut saja, sektor perdagangan, kehutanan, perindustrian, pertanian dan tenaga kerja. "Sektor ini harus dipegang mereka yang mau mengentaskan kemiskinan dan bukan untuk kepentingan partai guna raising fund," imbuhnya. (Warta Kota Cetak)

Baca selengkapnya di Harian Warta Kota Edisi Jumat, 11 April 2014

Editor: Dian Anditya Mutiara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved