Sejahtera Bersama Pecel Lele

Berkat menu harian yang dijual di warung-warung tenda pinggir jalan itulah warga desa-desa di Lamongan bisa membalik nasib.

Sejahtera Bersama Pecel Lele
Repro Kompas
Peternak memanen lele di Desa Kedungwangi, Kecamatan Ngamben, Lamongan, Jawa Timur. Lele menjadi sumber penghasilan utama warga Lamongan. 

Oleh Adi Sucipto Kisswara & Budi Suwarna

WARTA KOTA, PALMERAH - Jejak kemiskinan tiada tampak di Desa Patihan, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Di desa yang dulu tertinggal itu kini tumbuh rumah-rumah mentereng dengan mobil dan sepeda motor di setiap garasinya. Itu berkat kerja keras warga desa yang berjualan soto dan pecel lele.

Dua-tiga dekade lalu, Patihan masuk dalam daftar desa miskin. Rumah dibangun seadanya dengan dinding kayu dan gedek alias anyaman bambu. ”Akses masuk ke desa sempit dan penuh lumpur. Kalau musim hujan, banyak orang terperosok di jalan,” kenang Hadi Kuswanto, Kepala Desa Patihan, Januari.

Kini, wajah Patihan telah berubah. Jalan desa sebagian besar telah dicor dengan lebar 3,5 meter. Meskipun tidak seluruhnya mulus, jalan itu cukup untuk
dilintasi dengan nyaman oleh mobil dan sepeda motor keluaran terbaru milik warga. Di kiri-kanan jalan itu, rumah-rumah mentereng dengan pilar-pilar besar dan cat mencolok mata.

Perubahan serupa terlihat di Desa Siman, Kecamatan Sekaran. Di desa yang dulu miskin itu, rumah mentereng dengan pilar-pilar besar tumbuh hingga ke gang-gang sempit. Sebagian dibangun dua atau tiga lantai.

Apa yang membuat desa-desa itu sanggup bersalin wajah? Jawabannya adalah soto serta aneka pecel, seperti ayam, bebek, telur, dan lele. Berkat menu harian yang dijual di warung-warung tenda pinggir jalan itulah warga desa-desa di Lamongan bisa membalik nasib. Para pengusaha soto dan aneka pecel itu setelah sukses pasti kembali ke desa untuk membangun rumah, membeli sawah, mobil, dan naik haji.

Tengoklah Elis Rita Rosiana (22) yang membuka warung pecel lele dan menu laut nun jauh di Barabai, Kalimantan Selatan. Hanya dalam waktu tiga tahun berjualan pecel, ia bisa membangun rumah baru di desanya. Awal Januari, Elis khusus mudik untuk melihat proses pengerjaan rumah barunya yang cukup besar dan mentereng. ”Rumah ini untuk ditempati orangtua saya,” kata Elis.

Afidz (21) juga langsung merenovasi rumah ibunya jadi mentereng, membeli mobil Toyota Avanza, dan tanah seharga Rp 400 juta seiring kesuksesannya berjualan pecel lele di Muara Teweh, Barito Utara, Kalimantan Tengah. Ia pun sekarang lebih memilih pesawat untuk pergi-pulang dari Kalimantan ke Surabaya daripada naik kapal laut seperti dulu. Hari itu, awal Januari, Afidz dan tujuh pemuda Patihan bergegas menuju bandara untuk terbang ke tanah rantau di Kalimantan.

Sebagai anak muda yang baru berusia 21 tahun, lulusan SMP, pencapaian Afidz terbilang istimewa. Lalu, bagaimana pencapaian pengusaha pecel lele lainnya yang telah malang melintang jualan pecel belasan tahun seperti Suaib (54)? Laki-laki yang jualan pecel di Amuntai, Kalsel, itu mengaku telah membangun tiga rumah mentereng di Patihan; membeli sawah 1,2 hektar, tanah untuk rumah seluas 1.450 meter persegi, mobil, sepeda motor; dan naik haji.

Monumen kesuksesan
Rumah, sawah, mobil, dan sepeda motor seolah jadi monumen untuk menunjukkan kesuksesan para perantau di desa asal mereka. Hadi Kuswanto mencatat, tahun 2011 saja ada 54 sepeda motor yang dibeli warganya. Sayangnya, ia tidak mencatat berapa rumah yang telah dibangun warganya. Yang ia ingat, sebagian perantau mengumpulkan uang dan membangun gedung SMP swasta di Patihan.

Halaman
12
Editor: Andy Pribadi
Sumber: KOMPAS
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help