• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 23 Oktober 2014
Wartakota

Yuk, Rasakan Ramen Nomor 1 di Hokaido Ini

Minggu, 23 Februari 2014 16:45 WIB
Yuk, Rasakan Ramen Nomor 1 di Hokaido Ini
Warta Kota/Nur Ichsan
Awase aji ramen. 

WARTA KOTA, KELAPAGADING - Menyantap makanan Jepang sepertinya sudah menjadi bagian dari perburuan para pencinta kuliner.

Selain banyaknya restoran Jepang yang mengisi sudut-sudut pusat perbelanjaan, bahan utama yang digunakan makanan khas Negeri Sakura ini juga masuk dalam makanan favorit orang Indonesia, yaitu mi.

Tak heran bila pebisnis berbondong-bondong menyuguhkan menu ramen (mi khas Jepang) untuk memenuhi kebutuhan para konsumen yang ingin menyantap menu berkuah ini tanpa harus jauh-jauh pergi ke Jepang.

Santouka misalnya, dengan memboyong ramen yang diklaim sebagai ramen nomor satu di Hokkaido, Jepang, restoran ini mencoba menawarkan ramen Jepang asli yang segala bahan utamanya diimpor dari Jepang.

Iwan Bejo Sulaiman, Coorporate Chef Santouka mengatakan, layaknya mi instan, bumbu yang digunakan sudah ada dalam kemasan yang didatangkan langsung dari Jepang. "Sehingga rasa ramen yang kami jual sama dengan di negara asalnya, karena foundernya juga sangat perfect untuk urusan rasa," kata Iwan saat ditemui di Santouka di Plaza Indonesia, Selasa (18/2).

Santouka pertama kali buka di wilayah Asahikawa bagian utara Jepang dari tahun 1988. Selain di Indonesia, sang pendiri juga membuka cabang di negara lain dengan sistem franchise antara lain di Kanada, Thailand, Filipina, dan Malaysia. Di Amerika, kata Iwan, memiliki beberapa cabang.

"Untuk Santouka Jepang dan Amerika Serikat langsung dipegang sama foundernya melalui perusahaan yang didirikannya. Sebelum di Indonesia, Santouka memang sudah terkenal di beberapa negara," kata Iwan.

Kehadiran Santouka di Indonesia dimulai pada 13 Maret 2011. Ide awal dari sang owner Albert Wijaya yang mencoba membawa ke Indonesia setelah kerap menyantap ramen ala Hokkaido, Jepang ini selama berada di Los Angeles untuk menimba ilmu.

"Pas makan bersama keluarga, kami rasakan kok rasanya enak banget. Dari situ mulai terpikir kenapa enggak dibawa kesini (Indonesia)," kata Iwan.

Niat baik untuk memboyong ke Indonesia, kata Iwan, bukanlah perkara mudah. Sebagai restoran dengan sistem franchise, Albert harus bersabar untuk mendapatkan persetujuan dari pihak pendiri untuk buka cabangnya di Indonesia.

"Dari sejak pemunculan ide untuk bawa ke Indonesia kira-kira membutuhkan waktu 3-4 tahun karena harus menunggu persetujuan dari (manajemen) mereka (di Jepang)," kata Iwan.

Dari tujuh macam rasa ramen yang dimiliki, yaitu shio ramen, shoyu ramen, miso ramen, char siu ramen, kara miso ramen dan lainnya, shio ramen lah yang banyak diminati konsumen. Shio ramen adalah ramen rasa asinnya didapat dari bumbu bernama tare, yaitu bumbu dengan bahan dasar garam.

"Shoyu juga asin tetapi basicnya dari kecap asin, sedangkan miso rasanya itu dari kedelai," ujar Iwan.

Dari sekian banyak menu, Hiyashi Chuka salah satunya, Anda yang biasa makan mi, tentu mendapati sajian mi dan kuah hangat. Nah, beda dengan ramen yang satu ini. "Kami sajikan mi dengan suhu dingin, kuahnya pun juga dingin. Karena di Jepangnya sendiri memang menyajikan ramen dingin dan hangat," kata Iwan.

Hiyashi Chuka tersaji dengan topping yang terpisah berisikan kikurage (jamur kuping), negi (daun bawang), tamago (telur ayam dadar iris tipis), kani (kepiting diiris panjang tipis), mayonaise jepang, mustard jepang, dan komitamago. (vin)

Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
190596 articles 35 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Privacy Policy
Atas