Yuk, Rasakan Ramen Nomor 1 di Hokaido Ini

Menyantap makanan Jepang sepertinya sudah menjadi bagian dari perburuan para pencinta kuliner.

Yuk, Rasakan Ramen Nomor 1 di Hokaido Ini
Warta Kota/Nur Ichsan
Awase aji ramen. 

WARTA KOTA, KELAPAGADING - Menyantap makanan Jepang sepertinya sudah menjadi bagian dari perburuan para pencinta kuliner.

Selain banyaknya restoran Jepang yang mengisi sudut-sudut pusat perbelanjaan, bahan utama yang digunakan makanan khas Negeri Sakura ini juga masuk dalam makanan favorit orang Indonesia, yaitu mi.

Tak heran bila pebisnis berbondong-bondong menyuguhkan menu ramen (mi khas Jepang) untuk memenuhi kebutuhan para konsumen yang ingin menyantap menu berkuah ini tanpa harus jauh-jauh pergi ke Jepang.

Santouka misalnya, dengan memboyong ramen yang diklaim sebagai ramen nomor satu di Hokkaido, Jepang, restoran ini mencoba menawarkan ramen Jepang asli yang segala bahan utamanya diimpor dari Jepang.

Iwan Bejo Sulaiman, Coorporate Chef Santouka mengatakan, layaknya mi instan, bumbu yang digunakan sudah ada dalam kemasan yang didatangkan langsung dari Jepang. "Sehingga rasa ramen yang kami jual sama dengan di negara asalnya, karena foundernya juga sangat perfect untuk urusan rasa," kata Iwan saat ditemui di Santouka di Plaza Indonesia, Selasa (18/2).

Santouka pertama kali buka di wilayah Asahikawa bagian utara Jepang dari tahun 1988. Selain di Indonesia, sang pendiri juga membuka cabang di negara lain dengan sistem franchise antara lain di Kanada, Thailand, Filipina, dan Malaysia. Di Amerika, kata Iwan, memiliki beberapa cabang.

"Untuk Santouka Jepang dan Amerika Serikat langsung dipegang sama foundernya melalui perusahaan yang didirikannya. Sebelum di Indonesia, Santouka memang sudah terkenal di beberapa negara," kata Iwan.

Kehadiran Santouka di Indonesia dimulai pada 13 Maret 2011. Ide awal dari sang owner Albert Wijaya yang mencoba membawa ke Indonesia setelah kerap menyantap ramen ala Hokkaido, Jepang ini selama berada di Los Angeles untuk menimba ilmu.

"Pas makan bersama keluarga, kami rasakan kok rasanya enak banget. Dari situ mulai terpikir kenapa enggak dibawa kesini (Indonesia)," kata Iwan.

Niat baik untuk memboyong ke Indonesia, kata Iwan, bukanlah perkara mudah. Sebagai restoran dengan sistem franchise, Albert harus bersabar untuk mendapatkan persetujuan dari pihak pendiri untuk buka cabangnya di Indonesia.

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help