• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 1 Oktober 2014
Wartakota

BPPT Ungkapkan Hanya 50 Persen Bus Baru Jakarta Laik Jalan

Selasa, 18 Februari 2014 19:26 WIB
BPPT Ungkapkan Hanya 50 Persen Bus Baru Jakarta Laik Jalan
Warta Kota/angga bhagya nugraha
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Udar Pristono, mengecek kesiapan armada transportasi Bus Kota Terintegrasi Busway (BKTB) jurusan PIK - Monas di Halte Waduk Pluit, Jakarta Utara, Jumat (7/2/2014). Sebanyak 18 armada disiapkan untuk memenuhi transportasi warga pada hari kedua setelah diluncurkan.

WARTA KOTA, MH THAMRIN - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) meneliti 180 unit bus Transjakarta dan Bus Kota Terintegrasi Busway (BKTB) yang dibeli Pemprov DKI.

Hingga saat ini dari jumlah tersebut baru sekitar 50 persen atau 90 unit yang dinilai telah sempurna sesuai spesifikasi dan siap pakai. Sementara sisanya masih ada yang harus diperbaiki di beberapa komponen.

Direktur Pusat Teknologi Industri dan Aistem Transportasi BBPT, Prawoto di Gedung BPPT, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (18/2) mengatakan, pengadaan bus Transjakarta dan sedang terdiri dari 14 paket. Enam paket diantaranya dibawah pengawasan BBPT.

"Kami adalah yang membuat spesifikasi bus, jadi kami yang memeriksanya, apakah sudah sesuai spek atau belum. Jadi yang sudah sempurna baru 50 persen saja. Sisanya belum boleh jalan, meskipun hanya ada kerusakan kecil tapi kalau membahayakan di jalan belum kita beri izin," kata Prawoto.

Menurutnya, bus harus menjalani beberapa uji untuk diperbolehkan jalan, yakni uji fungsi dan uji tipe. Ia mencontohkan, ada sensor pintu tidak berfungsi dengan baik, sehingga untuk tutup dan buka tidak maksimal, maka tidak akan diperbolehkan untuk beroperasi. Prawoto menjelaskan, bus ini masih ada masa perawatan selama satu tahun atau 100.000 kilometer yang dibebankan kepada penyedia.

Hingga saat ini pihaknya bersama dengan Dinas Perhubungan tengah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap bus-bus yang baru didatangkan tersebut. Menurutnya, dalam pengadaan bus ini, BPPT melakukan perencanaan spesifikasi teknis bus articulated, single dan medium.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya beberapa spesifikasi bus diubah berdasarkan dengan Peraturan Pemrintah (PP) nomor 55 tahun 2012 tentang dasar penentuan spesifikasi dan performance kendaraan.

Spesifikasi yang dibuat diantaranya yakni beban bus dari semula 31 ton menjadi 26 ton. Selain itu juga tipe tabung gas untuk bahan bakar dari semula tipe dua tabung menjadi empat tabung. Tabung CNG yang digunakan pada bus ini lebih besar dan lebih ringan. Sehingga nantinya bus tidak perlu mengisi BBG berkali-kali dalam sehari.

Prawoto menjelaskan, BPPT menentukan Harga Penawaran Sementara (HPS) berdasarkan daftar harga pabrikan, biaya kontrak tahun sebelumnya, dan laju inflasi. HPS juga sudah mempertimbangkan harga kendaraan on the road termasuk surat-surat, serta garansi dan jaminan penyediaan suku cadang asli.

"Jadi ada beberapa orang yang menyebut-nyebut harga bus tanpa pembanding yang benar, kalau memang murah, hanya Rp 2 miliar per unit kenapa tidak ikut lelang?, kalau memang speknya sama, pasti menang dia," ujarnya.

Dalam membandingkan produk dan harga, kata Prawoto, harus sama, atau membandingkan apel dengan apel. HPS awal yang ditentukan BPPT untuk bus gandeng bahkan mencapai Rp 4 miliar per unit.

Penulis: Ahmad Sabran
Editor: Adi Kurniawan
Sumber: Warta Kota
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
189943 articles 35 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Privacy Policy
Atas