Sungai Ciliwung Jangan Disalahkan Ketika Banjir

Masalah banjir yang kerap melanda wilayah Jakarta disebabkan oleh luapan air Sungai Ciliwung. Padahal,bisa diminum oleh warga.

Sungai Ciliwung Jangan Disalahkan Ketika Banjir
Antaranews.com
Ahmad Heryawan 

WARTA KOTA, MENTENG - Masalah banjir yang kerap melanda wilayah Jakarta disebabkan oleh luapan air Sungai Ciliwung. Padahal, kalau di manfaatkan, air sungai Ciliwung sendiri bisa diminum oleh warga. Sedangkan, ketika air yang sudah masuk wilayah Jakarta menjadi cokelat keruh dan sangat jorok.

Hal ini dikarenakan sampah yang menumpuk serta kurangnya pengelolaan yang baik. Menurut Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan menjelaskan seharusnya Sungai Ciliwung tidak disalahkan ketika banjir melanda ibukota.

"Sungai Ciliwung sebenarnya sebagai sumber air bersih. Aliran air sungai Ciliwung sampai di Bogor masih layak minum. Kita punya sumber air sangat besar," kata pria yang akrab disapa Aher dalam diskusi pembahasan Megapolitan di Cafe Madame Ching, Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (10/2).

Aher menjelaskan bahwa pasokan air yang diberikan PDAM di Jakarta sendiri hampir 20 persen di seluruh wilayah Jakarta. Sementara untuk air tanah lama-lama akan habis. Sedangkan, air yang berada di kawasan Utara sudah asin dan tidak layak minum. Seharusnya aliran air Sungai Ciliwung dikelola dengan baik.

"Bisa difungsikan dalam berbagai bentuk seperti fungsi energi tenaga listrik dan sumber air. Jadi perlu dibuat bendungan sampai sepuluh agar ada lahan untuk memarkirkan air," kata Aher.

Kemudian, orang nomor satu Jawa Barat itu menjelaskan pemanfaatan air di Kali Citarum sebesar 42,6 persen untuk industri, air minum serta persawahan.

Sedangkan, sungai Ciliwung dari Gunung Gede Pangranggo sendiri hanya kurang dari 10 persen. "Jadi situ-situ serta waduk harus di hidupkan kembali. Anggaran Rp 830 miliar cukup untuk mengelola air agar bisa dimanfaatkan," kata Aher.

Dia mencontohkan kota Los Angeles yang mahir dalam menata banyaknya air yang berada di kawasannya.

Penulis: Bintang Pradewo
Editor: Dian Anditya Mutiara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help