Perhatikan Kebutuhan Non-Fisik Pengungsi Sinabung

Aktivitas Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, meningkat. Sepanjang Selasa (14/1) saja, terjadi 30 kali letusan.

Perhatikan Kebutuhan Non-Fisik Pengungsi Sinabung
Tribun Medan/Dedy Sinuhaji
Warga hendak mengevakuasi hewan ternak saat Gunung Sinabung kembali erupsi di Desa Berastepu, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Sabtu (4/1/2014). Aktivitas Gunung Sinabung terus meningkat ditandai dengan munculnya lava pijar dan luncuran awan panas. 

WARTA KOTA, JAKARTA - Aktivitas Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara meningkat. Sepanjang Selasa (14/1) saja, terjadi 30 kali letusan yang disertai luncuran awan panas.

Menurut koordinator Media Center Penanggulangan Bencana Sinabung Jhonson Tarigan, masyarakat yang berada di bawah radius 5 km dari kaki gunung Sinabung harus mengungsi karena jarak luncuran awan panas semakin jauh.

Jika sebelumnya luncuran awan panas hanya mencapai jarak 3 km dari kawah gunung, pada selasa kemarin jarak luncurannya menjadi 4 sampai 5 km ke arah tenggara.

Erupsi gunung Sinabung yang telah terjadi beberapa bulan terakhir telah menyebabkan 26.088 orang dari 8.103 kepala keluarga mengungsi. Diperkirakan masih akan ada gelombang pengungsi jika aktivitas gunung Sinabung semakin meningkat.

Beberapa pihak telah mendatangi beberapa lokasi pengungsian untuk meninjau langsung kondisi pengungsi Sinabung, termasuk Ketua PMI Jusuf Kalla.

Pengamat sosial, Dedeh Yulia mengapresiasi langkah pemerintah daerah Sumatera Utara yang tanggap dalam menangani pengungsi Sinabung.

Ia menyoroti kesiapan warga sekitar Sinabung yang sudah siap menghadapi erupsi sehingga jatuhnya korban dapat diminimalisir. Mengenai keadaan pengungsi, Dedeh menekankan pada hal-hal yang mendesak bagi pengungsi.

“Air bersih, bahan pangan, dan pakaian adalah kebutuhan dasar para pengungsi. Saya rasa tiga kebutuhan dasar tersebut dapat dipenuhi pemerintah,” ujarnya, Rabu (15/1/2014).

Lebih lanjut ia meminta pemerintah untuk memperhatikan aspek-aspek non fisik pengungsi.

“Saat ini aktivitas sehari-hari warga terhenti. Pemerintah harus mampu memberikan kepastian bagi warga setelah bencana usai,” tutur alumnus program pascasarjana Universitas Indonesia ini.

Dedeh menegaskan, kondisi psikologis warga yang sedang gamang akibat bencana menjadi persoalan tersendiri yang harus diselesaikan.

“Pendampingan oleh psikolog bisa menjadi solusi kegelisahan warga,” ujar Dedeh.

Selain itu menurutnya, pendidikan bagi anak-anak Sinabung tidak boleh terhambat akibat bencana.

“Saya berharap peserta didik yang menjadi pengungsi Sinabung tidak terganggu masa belajarnya. Jangan sampai bencana alam mengganggu proses belajar anak bangsa,” katanya.

Penulis: Bahri Kurniawan
Editor: Lucky Oktaviano
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help