Wajar Notaris di Solo Marah Karena Isteri Diselingkuhi Pemilik PT Sritex

Isteri notaris di Solo diselingkuhi pemilik PT Sritex, sehingga wajar marah.

Wajar Notaris di Solo Marah Karena Isteri Diselingkuhi Pemilik PT Sritex
Warta Kota
Pengacara Hotman Sitompul

WARTA KOTA, JAKARTA - Hotma Sitompul selaku penasehat hukum terdakwa Anthon Wahju Pramono (64), yang adalah notaris di Solo, menilai wajar kliennya itu marah karena istrinya diganggu dan dilecehkan oleh pelapor pemilik PT Sritex, HM Lukminto.Hal itu disampaikan Hotma Sitompul pada sidang penyampaian nota pembelaan terdakwa Anthon Wahju Pramono di Pengadilan Negeri Solo, Senin malam.

Hotma dalam nota pembelaan terdakwa mengatakan, justru tidak wajar jika ada orang yang tidak marah ketika istrinya diganggu dan dilecehkan oleh pihak lain. Apalagi Lukminto sudah dikenal dan dianggap sebagai keluarga oleh terdakwa.

Bahkan, terdakwa sebelumnya saat Sritex sedang kesulitan keuangan, Anthon justru dengan segala upaya membantu Lukminto hingga perusahaan menjadi besar seperti sekarang ini.

Menurut Hotma, terdakwa secara spontan mengirimkan pesan singkat (SMS) kepada Lukminto, karena merasa kesal atas tindakannya terus mengganggu.

Kemarahan terdakwa mencapai puncaknya saat mendengar istri yang dicintainya juga dilecehkan. Hal itu membuat terdakwa spontan mengirim sms, yang isinya kemudian oleh pelapor, dianggap sebagai ancaman pembunuhan.

Hotma juga curiga terhadap Kejaksaan Negeri Solo yang tidak dapat menghadirkan pelapor Lukminto ke dalam sidang tanpa ada alasan yang jelas. Pelapor dinilai sudah berada di atas hukum di Indonesia, sehingga tidak mau menghormati pengadilan.

"Masak jaksa penuntut umum kalah dengan Satpam penjaga rumah pelapor untuk menyampaikan surat panggilan sidang? Lukminto sudah lebih dari 10 kali tidak hadir dalam sidang tanpa alasan," kata Hotma.

Hotma juga menjelaskan, nota keberatan bahwa Lukminto bukan sebagai korban tetapi pelapor, karenanya dia harus dihadirkan di persidangan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi sebelum SMS dikirimkan oleh terdakwa.

"Terdakwa merasa lega setelah mengirim SMS dan tidak memikirkan lagi apa isinya. Bahkan, pelapor tidak merasa takut terhadap isi SMS itu," kata Hotma.

Hotma juga merasa curiga terhadap jaksa penuntut umum yang diberikan waktu cukup, tetapi hanya perlu waktu satu hari untuk menyusun surat tuntutannya dan sudah siap dibacakan. "Jangan-jangan jaksa mempunyai lampu aladin bisa instan langsung jadi."

Selain itu, Hotma dalam nota pembelaannya mengatakan bahwa jaksa penuntut umum dianggap lalai dalam menyusun surat dakwaan tersebut dan tidak memenuhi syarat formal. Karena itu kasus ini harus dibatalkan demi hukum. Jaksa yang salah tulis nama terdakwa dari dakwaan hingga ke surat tuntutan dengan nama Anthon Wahju Purnomo, bukan Anthon Wahju Pramono.

Oleh karena itu, penasehat hukum terdakwa itu memohon kepada mejelis hakim untuk mempertimbangkan sebab akibat dan keterangan saksi ahli serta fakta dalam persidangan yang belarut-larut ini.

Menurut jaksa penuntut umum Ana May Diana dan Fanny Widyastuti, pihaknya tetap pada pendirian sesuai surat tuntutan dan akan melakukan pembelaan pada sidang selanjutnya.

Sidang yang dipimpin oleh ketua majelis hakim Herman Heller Hutapea yang berlangsung hingga pukul 20.00 WIB akhirnya diagendakan untuk dilanjutkan dengan pembelaan jaksa penuntut umum (replik) di PN Solo, Kamis (5/12). (Antara)

Tags
selingkuh
Editor: Adi Kurniawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help