WartaKota/

Komunitas Jakarta Osoji Club

Malu Ah, Sembarangan Buang Sampah

Mereka tergabung dalam Jakarta Osoji Club, komunitas yang digagas ekspatriat Jepang di Jakarta

Malu Ah, Sembarangan Buang Sampah
Repro Kompas
Komunitas JOC saat melakukan aksi bersih di Senayan. 

Oleh Sarie Febriane

WARTA KOTA, SENAYAN - Malu. Begitulah rasa yang tebersit di hati ketika melihat sekumpulan warga Jepang rela memunguti sampah yang dibuang sembarangan oleh warga Jakarta...

Mereka tergabung dalam Jakarta Osoji Club, komunitas yang digagas ekspatriat Jepang di Jakarta demi mengampanyekan perilaku membuang sampah yang beradab.

Gelora Bung Karno pada Minggu pagi senantiasa ramai oleh berbagai kegiatan olahraga. Keramaian yang juga senantiasa menghasilkan sampah berserakan. Di antara keriuhan itu, tampak beberapa orang berkaus hijau terang tengah memunguti sampah dengan alat penjepit di tangan kanan dan kantung pengumpul di tangan kiri. Di punggung kaus hijau mereka tertulis ”malu buang sampah sembarangan”.

Terlihat dari penampilannya mereka bukan pemulung. Mereka adalah warga Jepang yang bermukim di Jakarta. Tak jarang di antara mereka adalah presiden direktur di perusahaan-perusahaan Jepang yang populer. Apa yang membuat mereka tergerak memunguti sampah sedemikian tekun?

Komunitas yang baru terbentuk April 2012 lalu ini pada awalnya digagas oleh seorang ekspatriat Jepang yang bermukim di Jakarta, Tsuyoshi Ashida (51). Pada 7 April 2012, surat kabar komunitas warga Jepang, The Daily Jakarta Shimbun, memuat tulisan Ashida yang mengungkap keprihatinannya tentang kotornya kota Jakarta dan perilaku warga yang dengan mudahnya membuang sampah sembarangan.

Dalam artikel tersebut, Ashida mencontohkan keprihatinannya setiap kali ada kampanye, misalnya dalam rangka pemilihan presiden, seusai acara maka sampah berserakan di mana-mana. Sementara, sang calon langsung pulang begitu saja. Ashida mengandaikan sang calon dapat mengimbau massanya untuk tidak menyampah dan memungut sampah bersama-sama.

”Saya lalu mengimbau dalam artikel itu, siapa saja yang ingin mengubah walaupun usaha kecil, silakan berkumpul. Ternyata imbauan saya itu kena. Mereka datang karena setuju dengan imbauan saya,” cerita Ashida.

Setelah beberapa warga Jepang itu berkumpul dan berembuk, mereka akhirnya memutuskan untuk rutin dua pekan sekali memungut sampah di tempat di mana banyak orang berkumpul. Aksi pertama akhirnya terlaksana pada 29 April 2012 di areal Gelora Bung Karno. Pertimbangannya kala itu, adalah tempat yang ramai dikunjungi orang, kerap banyak sampah berserakan, dan relatif aman karena anggota yang terkumpul kerap membawa anak-anak.

Dari semula sekitar 10 orang warga Jepang yang tergabung, lama kelamaan menjadi sekitar 70 orang Jepang bergabung dalam JOC. Mulai dari ibu-ibu rumah tangga, guru sekolah Jepang, bapak-bapak yang bekerja di berbagai perusahaan, hingga anak-anak. Lama kelamaan, aksi mereka mengundang perhatian orang Indonesia yang kemudian ikut bergabung. Kini, jumlah orang Indonesia pun sekitar 200 orang. Mulai dari anak-anak hingga orang lanjut usia.

Halaman
12
Editor: Andy Pribadi
Sumber: KOMPAS
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help