Yuk Kenal Padmaditya, Pemburu Radio Lawasan

Kelompok ini bermula dari ketidaksengajaan para pemburu pesawat radio lawas yang saling bertemu ketika berburu radio lama.

Yuk Kenal Padmaditya, Pemburu Radio Lawasan
Repro Kompas
Komunitas Padmaditya, pemburu radio lawasan saat pameran. 

Oleh Thomas Pudjo Widijanto

WARTA KOTA, YOGYAKARTA - Pelestari Audio Lama dan Radio Tabung Yogyakarta atau Padmaditya memamerkan koleksi radio-radio lama di Bentara Budaya Yogyakarta, 13-22 September 2013. Ada 50 lebih pesawat radio yang dipamerkan dengan merek Philips, Erres, Blaupunkt, Robin, Telefunken, dan lain-lain buatan antara tahun 1920 dan 1970. Umumnya, radio tersebut berasal dari Inggris, Jerman, Belanda, Rusia, dan Jepang. Konstruksinya pun masih menggunakan sistem tabung.

Di samping radio tabung, dipamerkan pula berbagai bentuk pesawat radio yang menggunakan sistem transistor, termasuk radio produksi dalam negeri. Ada 10 pesawat transistor merek Ralin buatan Indonesia tahun 1970. Bentuk radio ini juga masih klasik sebagai radio-radio lama sistem tabung. Dipamerkan juga beberapa gramafon lawas buatan sekitar tahun 1920 yang masih menggunakan tenaga manual dengan cara diputar tangan, tanpa listrik.

Kebanggaan
Kelompok pencinta radio lama Padmaditya dibentuk tahun 2011. Kelompok ini bermula dari ketidaksengajaan para pemburu pesawat radio lawas yang saling bertemu ketika berburu radio lama. Akhirnya diketahui cukup banyak penggemar radio lawasan alias kuno. Mereka kemudian sepakat membentuk komunitas Padmaditya.

Anggotanya memang baru 11 orang, antara lain Didi Sumarsidi selaku wakil ketua. Kemudian ada Iwan Ganjar, seorang ahli reparasi radio tua, Endro Nugroho, Didi Widiyanto (pembuat repro radio tabung), Suraji, Yan, Sani Poespo, Putri Sari, Rida Yanuar, Peni, dan Singgih. Ketuanya, Dodit, telah almarhum. Usia anggota Padmaditya ini beragam, mulai dari 20-an sampai dengan 70-an tahun.

Padmaditya ingin melestarikan audio lama sebagai dokumentasi sejarah. Perangkat audio lama itu juga mempunyai kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki audio zaman sekarang. Di antaranya: desain bentuk yang unik dan rumit, artistik, kualitas suara yang masih analog, dan belum didigitalisasi seperti audio zaman sekarang. Sistem analog memberi kesan suara manusia lebih asli. Radio lama juga memiliki kelebihan, yaitu mempunyai frekuensi gelombang pendek, short wave (SW) yang memungkinkan untuk menjangkau siaran dari luar negeri.

Berburu radio
Anggota Padmaditya sering berdiskusi tentang pesawat radio. Atau juga tukar-menukar onderdil alias suku cadang radio yang susah didapat di pasaran. Namun, yang paling mengasyikkan adalah berburu radio kuno. Untuk itu mereka siap keluar masuk pasar loak atau blusukan dari kampung ke kampung di berbagai kota. Mereka kadang juga mendapat barang dari seorang pemulung.

Kolektor Hendra dari Semarang, misalnya, mempunyai radio merek Telefunken buatan tahun 1960 yang bentuknya mirip bangun puncak katedral. Dari perburuan itu Iwan Ganjar kini mengoleksi 40 radio dan 50 gramafon. Pernah dalam sebuah perburuan itu, mereka mendapatkan piringan hitam penyanyi tenor Enrico Caruso rekaman tahun 1902 dengan lagu ”Vesti La Giubba”. Kolektor lain, Didi Sumarsidi, seorang dokter tentara, menyertakan, dalam buruannya dia berhasil mengumpulkan 175 radio. Dalam pameran di BBJ, ia ”hanya” membawa 30 pesawat radio. Istrinya sempat marah karena koleksinya itu.

Saat bertugas di Bima, NTB, Didi mendapatkan dua buah radio lawas multiband merek Siemen buatan Jerman. ”Beratnya masing-masing 12 kilogram,” katanya. Dalam sebuah perburuan, Didi pernah membawa pulang 40 unit pesawat radio. Koleksi yang menjadi kebanggaannya adalah radio Philips Kompas dengan penanda gelombang berbentuk menyerupai kompas. Serta Philips Bi Ampli. Dua radio yang masih mulus itu ia dapat dengan harga Rp 200.000.Pokoknya, sekali di radio tetap di radio.

Editor: Andy Pribadi
Sumber: KOMPAS
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help