Kembalikan Prinsenpark, Kembalikan Taman Hiburan untuk Rakyat

Selain ruang dansa, tempat makan, Prinsenpark juga menyediakan kolam renang. Kolam renang ini dibangun oleh pengembang yang sudah pernah membangun kolam renang di Batavia.

MANGGABESAR, sejak zaman Orde Baru hingga di abad 21 ini tak lebih dari sebuah kawasan yang terkenal sebagai kawasan hiburan malam. Baik hiburan malam berupa berbagai macam makanan tradisional – khususnya bagi warga Tionghoa dan peranakan – maupun hiburan malam dalam artian lebih khusus bagi manusia dewasa. Di Manggabesar pula terdapat kompleks hiburan yang kondang sebagai tempat hiburan “remang-remang” – Lokasari.

Padahal, kalau menilik masa lampau Lokasari, tak ada sedikit pun tercermin sebagai tempat hiburan malam khusus dewasa, atau lebih tepatnya untuk pria dewasa. Tempat ini punya sejarah panjang untuk seni pertunjukan sejak masa Hindia Belanda seperti komedie stamboel, toneel melajoe yang kesemuanya tak lain adalah tiruan dari opera. Dari sana kemudian muncul nama-nama besar seperti Miss Riboet, Roekiah, Dewi Dja, Tan Tjeng Bok, Fifi Young sampai Laila Sari dan sejumlah kelompok panggung seperti Dardanela, Komedie Stamboel itu sendiri, Malayan Opera (Opera Melayu), Miss Tjitjih dll.

Sudah sejak 1890-an komedie stamboel menghibur warga di Manggabesar. Para pemain biasa disebut anak wayang. Di Batavia, anak wayang dikumpulkan di kawasan bernama Tangki,  Tamansari (tak jauh dari Manggabesar). Di tahun 1920-an, berdiri Malayan Opera. Anak wayang Malayan Opera inilah yang kebanyakan tinggal di Tangki. Pada 1950, di mana kampung ini kemudian dijejali seniman, muncul sebutan Tangkiwood – seperti Hollywood.

Madjalah Djaja edisi 21 Djuni 1969 sedikit mengulas tentang bioskop di Djakarta. dalam majalah itu disebutkan Prinsenpark atau Lokasari di kemudian hari juga memunculkan bioskop yang lebih modern di zaman seputar 1950-1960-an, antara lain Bioskop Roekiah, Bioskop Manggabesar dan Bioskop Tamansari.

Di Prinsenpark juga biasa digelar Pasar Malam Prinsenpark dimulai pada 1940. "Bataviaasch Nieuwsblad" edisi 15 Juli 1940 mengabarkan, akan ada pasar malam dimulai sejak akhir  Agustus hingga delapan September. Pasar malam itu didanai oleh Belanda.

Semua ini dimulai sebelum 1939, di mana di lokasi yang kemudian hari menjadi Lokasari, dibangun kompleks tempat/taman hiburan bernama Prinsenpark. Sebagai kompleks tempat hiburan, Prinsenpark menjanjikan, tak akan ada yang merasa bosan jika masuk ke kawasan itu. Sebuah tempat hiburan yang akan membuat Batavia semakin berkilap. Pembukaan awal Prinsenpark dilakukan
pada 29 Maret 1939.

Seperti berita yang diturunkan oleh koran “Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie” pada 30 Maret 1939. Koran koleksi Koninklijke Bibliotheek ini menuliskan, “Manajemen Prinsenpark sudah mengorganisir undangan untuk sebuah petang dan malam yang spesial. Untuk pertama kali sistem penerangan di ruangan teater akan dicoba. Instalasi motor Lindeteves-Stokvis diuji coba tapi tetap saja (lampu) mati sehingga harus menggunakan lilin. Tak berapa lama lampu kembali benderang dan tamu pun berbondong memenuhi ruang dansa La Gaite. Tamu pun merasa nyaman di ruang  yang didekor oleh Linto dengan band pengiring yang terdiri dari berbagai macam orkes kecil.”

Selanjutnya wartawan yang diajak “tur de Prinsenpark” itu melaporkan,”Kami sudah menuliskan tentang ruang dansa tapi setiap opini tak komplit tanpa merasakan sendiri, bahwa Batavia sudah menjadi ruang dansa di mana tak ada yang tak mampu membuat orang terhibur.”

Dekorasi ruangan benar-benar membuat suasana suka cita yang nyaman, harga konsumsi dibuat semoderat mungkin (tak kemahalan) dan musik dapat dipilih yang mana yang akan diperdengarkan,
seperti misalnya resital biola. Dalam tur awal pembukaan Prinsenpark ini, sang penulis mengungkap betapa luas kompleks hiburan itu. Publik pun terkesima dengan apa yang mereka lihat.

Selain ruang dansa, tempat makan, Prinsenpark juga menyediakan kolam renang. Kolam renang ini dibangun oleh pengembang yang sudah pernah membangun kolam renang di Batavia. Dan kolam renang di Prinsenpark dibikin dengan standar internasional dengan kolam-kolam yang juga bisa digunakan untuk mereka yang belum bisa berenang dan untuk keluarga.

Pesta soft opening Prinsenpark dinilai wartawan kala itu sebagai sebuah pesta terbaik di Batavia. Atmosfer yang nyaman termasuk untuk keluarga, juru masak yang ciamik membuat kota ini siap menyambut hangat bisnis hiburan yang baru ini.

Hingga tahun 60-an, konsep taman hiburan atau kompleks hiburan yang sesungguhnya, masih melekat di Lokasari. Ada bioskop, ada lapangan olahraga, kola renang, tempat untuk pesta, ruang untuk
sekolah dansa hingga ke kuliner tradisional dan langka.

Pada 1985, Lokasari diremajakan dan hingga kini lahan seluas lebih dari satu hektar itu menjadi tak jelas peruntukannya. Lokasari tak lagi menyisakan bekas-bekas Prinsenpark – taman hiburan  rakyat sesungguhnya, apalagi menyoal seni pertunjukan.

Pun, tak tampak sedikitpun bangunan lama bekas Prinsenpark, Tak ada lagi bioskop, tak ada lagi kolam renang, yang ada adalah deretan pertokoan yang tak ada beda dengan mal. Ada hotel baru berdiri di sana dengan nama Prinsen Park. Jika kita ada waktu menyambangi kawasan Manggabesar dan mampir ke Lokasari, di benak sudah tak bisa hilang, kawasan itu semua identik dengan hiburan nakal.

(Pradaningrum Mijarto)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved