Pasar Rakyat, Ya, Pasar Gambir

Pasar Malam Gambir atau Pasar Gambir bermula dari Koninginnedag atau Hari Ratu. Awalnya digelar untuk merayakan penobatan Ratu Wilhelmina pada 31 Agustus 1898.

“Pasar Gambir, Kota Betawi… Ai Kota Betawi …Ai indung disayang,
sampai di Gambir, Nona…Sampai di Gambir, Nona, membeli pala
Buah pala di pinggir kali…Yang baju merah, Nona, manis sekali
Anak kepiting di lubang batu…Sudah dilubang merayap lagi
Badanlah miskin tambah piatu…Sudah piatu melarat lagi
Dari jauh saya kemari…Ai saya kemari…Ai indung disayang…Mencari makan, Nona
Mencari makan, Nona, jual suara
Buah kedondong di pinggir kali…Ini keroncong, Nona, enak sekali.”

Bagaikan nona cantik, Pasar Gambir selalu jadi buah bibir. Khususnya di masa ketika Wilhelmina dan Juliana berkuasa di Hindia Belanda. Syair keroncong tersebut di atas, dipopulerkan kembali oleh suara almarhum Chrisye.  Saat mendengar lagu itu, saya sedang melayang ke Pasar Malam Gambir di akhir abad 19 – tentu saja melalui foto-foto kuno dan artikel dari tahun di mana pesta rakyat  itu mulai digelar.

Passar Gambir atau Passer Gambir hampir tak pernah luput diliput media di abad itu. Koleksi Koninklijke Bibliotheek (Perpusatakaan Kerajaan) banyak menyimpan kisah Pasar Malam Gambir. Sebut saja “De Sumatra Post” edisi 2 September 1907 menulis, kira-kira demikian, “Cuaca Batavia sedang ramah, terutama saat merayakan Hari Ratu dengan parade, audiensi publik dan pesta sehari penuh di Pasar Gambir.”

Pada koran lain, “Bataviaasch Nieuwsblad” terbitan 23 September 1921, tertulis, “Semalam, Komite Pasar Gambir mengadakan pertemuan yang menginformasikan bahwa laba bersih dari Pasar Gambir sebesar 18.848.38 Gulden. Dari hasil itu, tentu saja, Kota Batavia akan mendapat bagian. Sementara itu selama gelaran Pasar Gambir ini ada 334.985 orang yang berkunjung dan dari jumlah tiket masuk, panitia mendapat 78.358 Gulden. Dari sini ditetapkan pula panitia penyelenggara dibikin permanen.”

Delapan tahun kemudian, 2 September 1929 “De Sumatra Post” menurunkan berita, “Jumlah pengunjung Pasar Gambir pada pagi hari ada 11.385 orang, sedangkan pada sore hari meningkat menjadi 105.849 orang sehingga jumlah total adalah 117.134 orang."

Pasar Malam Gambir atau Pasar Gambir bermula dari Koninginnedag atau Hari Ratu. Awalnya digelar untuk merayakan penobatan Ratu Wilhelmina pada 31 Agustus 1898. Kemudian pasar malam ini dibikin setiap tahun yaitu untuk merayakan hari ulang tahun Wilhelmina tiap 31 Agustus.  Perayaan mengambil tempat di Koningsplein atau disebut juga Lapangan Gambir (kini masuk dalam kawasan Monas) selama sepekan hingga September.

Di kemudian hari pasar malam ini digelar selama dua pekan diramaikan dengan berbagai tontonan, pertandingan sepak bola, karapan sapi, makanan tradisional, berbagai produk lokal, teknik lokal yang kemudian bersanding dengan produk Eropa serta penemuan-penemuan dalam ilmu pengetahuan Barat.  Intinya, pasar malam ini memang ditujukan untuk rakyat, untuk menghibur rakyat.

Dalam situs resmi Pasar Tong Tong (Belanda) disebutkan, tiap tahun desain Pasar Gambir di Batavia selalu berbeda. Menjadikan Koningsplein perpaduan Asia dan Eropa. Pasar malam ini memang bukanlah pasar malam biasa karena memadukan karnaval, pameran, kerajinan tangan, musisi tradisional, kesenian dan tradisi Indonesia, dengan segala yang berbau Barat atau Eropa. Tentu saja segala yang khas Belanda sangat menonjol ditampilkan di sini.

Sayangnya, kedatangan Jepang tak hanya meluluhlantakkan bangunan bersejarah, menghilangkan begitu banyak arsip tapi juga menghentikan kejayaan Pasar Gambir.

Di Belanda, "Pasar Gambir" dilanjutkan. Pasar Malam terus digelar tiap tahun di Malieveld, Den Haag sekitar Mei-Juni. Di negeri keju ini namanya menjadi Pasar Malam Tong Tong atau Pasar Malam Besar yang berisi berbagai tradisi, kuliner, kesenian, budaya yang berbau nostalgia terlebih bagi warga Belanda yang lahir di Indonesia, pernah tinggal di Indonesia, masih memiliki ikatan dengan Indonesia atau masih menyimpan cinta pada Indonesia. Selain itu juga tentu sebagai cara memperkenalkan Indonesia kepada mereka yang belum pernah tahu tentang Indonesia.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved