Komedie Stamboel dari Istanbul

Komedie Stamboel pertama kali muncul di Surabaya, pada 1891. Pelopornya seorang Indo bernama August Mahieu. Si Indo berbekal kepiawaian bernyanyi, sedangkan urusan dana dipegang Yap Goa Thay.

PERNAH dengar nama Prinsen Park?  Kini lokasi itu dikenal dengan nama Lokasari, letaknya di Manggabesar. Sebuah nama yang seringkali berkonotasi negatif. 

Prinsen Park punya sejarah panjang untuk seni pertunjukan sejak masa Hindia Belanda. Sebut saja Komedie Stamboel. Komedie di sini tak lantas berarti komedi, kisah lucu. Komedie di sini artinya pertunjukan. Sebelum masuk ke komedie stamboel, baiklah kita mundur sejenak. Di akhir abad 19 tontonan panggung yang begitu digemari warga kelas bawah adalah tiruan opera yang disisipi adegan hiburan. Dalam beberapa babak, tontonan itu diisi lawak, lagu dan tarian.

Komedie Stamboel, pertama kali muncul di kota pelabuhan, Surabaya, pada 1891. Pelopornya adalah seorang Indo bernama August Mahieu. Si Indo berbekal kepiawaian bernyanyi, sedangkan urusan dana dipegang Yap Goan Thay, begitu Misbach Yusa Biran memulai kisah dalam "Sejarah Film 1900 – 1930: Bikin Film di Jawa".

Lantas dari mana nama stambul? Kisahnya begini, anggota kelompok Mahieu senang mengenakan topi warna merah, topi tradisional Turki, dengan semacam kuncir di bagian atas. Orang di Hindia Belanda mengucapkan ibu kota Turki, Istanbul, sebagai Stambul, maka jadilah kelompok komedi Mahieu disebut Komedie Stamboel.

Mahieu mengambil pola pertunjukan Abdul Muluk di Semenanjung Malaka. Abdul Muluk sendiri meniru pertunjukan dari Iran. Maka pementasan 1001 Malam pun jadi begitu beken. Selain 1001 Malam, kisah Hamlet, karya Multatuli De Bruide daar Booven pun ikut dipentaskan.

Komedie Stamboel ini menaklukkan hati masyarakat seantero Hindia Belanda bahkan hingga ke tanah Singapura. Rombongan pertunjukan panggung pun bertumbuhan. Tren pementasan Stamboel pun jadi patokan. Sebut saja Genoveva, Aladin dan Lampu Ajaib, serta karya-karya Shakespear seperti The Merchant of Venesia dan Hamlet.

Dalam buku "The Komedie Stamboel: The Popular Theater in Colonial Indonesia 1891-1903" yang ternyata karya seorang pria beristrikan perempuan Jawa, disebutkan, tur rombongan Mahieu tak hanya ke Singapura, tapi juga ke Aceh, Medan, Deli, Padang dan daerah-daerah lain di Sumatera. Setelah pembatalan tur Sumatera karena kondisi cuaca, rombongan Stamboel kembali ke Batavia dan menyewa sebuah rumah sebagai penampungan para pemain.

Matthew Isaac Cohen, sang penulis, menyebutkan, rumah itu ada di Gang Pinang di area bernama Pesayuran dan mendapat izin untuk tampil selama dua bulan di Manggabesar. Dalam periode 30 Maret – 24 Mei 1894 Komedie Stamboel menangguk untung besar, sebuah sukses mengantongi pemasukan bersih sebesar 10.000 gulden.

Meskipun, lagi-lagi kondisi cuaca yang buruk, hujan mendera membuat beberapa repertoar batal ditampilkan namun tahun 1894 itu bagi Mahieu dan rombongan merupakan tahun sukses. Mereka juga mementaskan Badarel Dunia atau The World Star. Cohen tak lupa mencatat kejadian saat Komedie Stamboel manggung , khususnya di Manggabesar.

Demikian kira-kira Cohen menulis, “Khalayak ramai sungguh tersedot oleh Komedie Stamboel, alhasil kerumunan itu jadi sulit diatur. Warga Belanda menggoda paksa seorang istri dari pria Tionghoa. Perkelahian pun pecah saat rombongan Mahieu memainkan Sahir Zaman. Polisi sampai harus turun tangan menggeret pria Tionghoa, memanggil andong, kereta pengangkut untuk membawa pria tadi pulang ke rumah."

Di ujung lain, seorang sinyo yang beken di antara pengendara andong/sado memulai perkelahian. Pekerja seks bersama bos mereka berkumpul di dekat tenda panggung. Sementara itu, serdadu mabuk nan sombong diikat di sado yang ada di luar teater. Itu sebagai lelucon, jelas saja penonton malah jadi khawatir.

Rupanya sejak abad lalu, kerusuhan seperti itu sudah ada. Pertunjukan panggung ini pada akhirnya melahirkan beberapa rombongan lain yang punya nama di tahun 1920-an termasuk Komedie Stamboel Dardanela, Miss Tjitjih, Tjahaja Timoer hingga Srimulat setelah Indonesia merdeka.
 

(Pradaningrum Mijarto)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help