WartaKota/

JELAJAH MUSEUM

Kembali Dari Rengasdengklok, Sukarno-Hatta Tekadkan Proklamasi

JIKA menengok perjalanan sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, tentu tak lepas dari peran rumah kediaman Laksamana Maeda di Jl Imam Bonjol No 1, Jakarta Pusat.

JIKA menengok perjalanan sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, tentu tak lepas dari peran rumah kediaman Laksamana Maeda di Jl Imam Bonjol No 1, Jakarta Pusat. Rumah tersebut kini menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Di dalam bangunan bergaya Eropa seluas 1.138 meter persegi ini, banyak terdapat ruang dengan lorong-lorong yang besar. Ruang pertama merupakan tempat persiapan perumusan naskah proklamasi yang terdiri dari beberapa sofa empuk. Di sinilah Maeda menyambut kedatangan Bung Karno, Bung Hatta, dan Achmad Sobardjo sekembalinya mereka dari Rengasdengklok, sekitar jam 10 malam, pada 16 Agustus 1945.

Pada kesempatan itu, Maeda memberitahukan pesan dari ‘Gunselkan’ (Pemerintah Militer Jepang) agar menemuinya. Kemudian, Soekarno dan Hatta, ditemani Maeda, menemui Mayor Jenderal Nishimura untuk menjajaki sikapnya tentang rencana Proklamasi Kemerdekaan. Nishimura berkata bahwa Jepang dapat membantu, karena telah ada kesepakatan dengan pihak Sekutu untuk mempertahankan status quo, karenanya Nishimura melarang Soekarno-Hatta mengadakan rapat PPKI dalam rangka pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan.

Soekarno- Hatta pun berpendapat bahwa tidak ada gunanya lagi untuk membicarakan kemerdekaan Indonesia dengan pihak Jepang. Ini seperti yang diarahkan para pemuda pejuang saat Sukarno-Hatta berada dalam ‘penculikan’ mereka, di rengasdengklok.

Malam itu, Sukarno-Hatta sudah bertekad untuk melakukan proklamasi. Mereka hanya berharap agar tentara Jepang tidak menghalang-halangi proses pelaksanaan proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Soekarno dan Hatta lalu kembali ke rumah Maeda, pada pukul 02.30 WIB. Rumah Maeda dipilih sebagai tempat penyusunan Naskah Proklamasi karena Maeda memberi jaminan keselamatan pada Bung Karno dan tokoh lainnya. Saat berlangsunya rapat perumusan, Maeda sendiri masuk ke kamar tidurnya di lantai dua rumahnya. Ia tidak turut serta dalam rapat bersejarah yang berlangsung di lantai satu bangunan rumah. Pada saat itu, dimulailah rangkaian penyusunan draft teks proklamasi.

Dalam pertemuan itu, beberapa tokoh lain yang hadir antara lain Dr. Mohammad Amir, Dr. Boentaran Martoatmodjo, Sukarni, Chaerul Saleh, Sayuti Melik, Anang Abdoel Hamidhan, Andi Pangerang, Andi Sultan Daeng Radja, Semaun Bakry, Mbah Soediro, Ki Hajar Dewantara, R. Otto Iskandardinata, Dr. K.R.T Radjiman Wedyodiningrat, Prof. Dr. Mr. R Soepomo, Dr. G.S.S.J. Ratulangi, Mr. Soetardjo Kartohadikusumo, Mr. I Goesti Ketut Poeja, Mr. A Abas, Mr. Johanes Latoeharhary, Ki Bagoes Hadji Hadikoesoemo, Abiekoesno Tjokrosoejoso, M. Iwa Kusumasumantri, Mr. Teukoe Moehammad Hasan dan Burhanuddin Moehammad Diah.

Penulis: Feryanto Hadi
Editor: Rendy Adrikni Sadikin
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help