JELAJAH MUSEUM

Sejarah Museum Layang-Layang, dari Hobi Menjadi Prestasi

Koleksi layang-layang di museum ini, terdiri dari koleksi dalam negeri maupun koleksi dari manca negara, termasuk layang-layang tradisional dan modern.

MUSEUM Layang-Layang yang terletak di Jalan H. Kamang No. 38 Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan, tidak seperti museum lain yang berada di bawah dinas atau kementerian dan mendapat dana pengelolaan termasuk untuk menggaji karyawan. Museum ini, murni milik swasta dan dikelola oleh sebuah yayasan.

Museum Layang-Layang Indonesia didirikan oleh seorang pakar kecantikan yang menekuni dunia layang-layang sejak tahun 1985 dengan membentuk Merindo Kites & Galery yang bergerak di bidang layang-layang. Namanya Endang W. Puspoyo. Kecintaannya yang mendalam kepada layang-layang, beliau kemudian mendirikan Museum Layang-Layang Indonesia pada 21 Maret 2003 dengan tujuan untuk melestarikan budaya layang-layang tradisional yang unik dari setiap wilayah Indonesia. Sebelum menjadi museum, bangunan yang kini dipakai untuk museum adalah sebuah home industry yang memproduksi layang-layang yang banyak di-ekspor ke luar negeri.

Kiprahnya dalam mendirikan Museum Layang-Layang Indonesia ini, telah mendapat pengakuan dan penghargaan dari berbagai pihak, seperti penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk pemecahan rekor pemrakarsa dan penyelenggara pembuatan layang-layang berbentuk diamond terbesar pada 2011 serta penghargaan kepariwisataan Indonesia pada 2004, yang diberikan oleh I Gede Ardika selaku Menteri Kebudayaan dan Pariwisata saat itu.

Salah satu Manajemen museum, Nai R. Aslamiah ketika ditemui Wartakotalive.com menjelaskan bahwa jumlah koleksi layang-layang di museum ini berjumlah 600, namun jumlah tersebut terus bertambah seiring datangnya koleksi-koleksi baru dari para pelayang daerah dan luar negeri maupun layang-layang yang dibuat sendiri oleh karyawan museum.

Koleksi layang-layang di museum ini, terdiri dari koleksi dalam negeri maupun koleksi dari manca negara, termasuk layang-layang tradisional dan modern. Mulai dari layang-layang berukuran dua centimeter, hingga yang berukuran besar. Bahkan, dalam museum ini terdapat beberapa koleksi layang-layang berukuran raksasa terbesar di tanah air seperti layang-layang ‘Megaray’ berukuran 9 X 26 meter yang dapat disewakan untuk kegiatan eksibisi.

Fasilitas lain selain ruang pamer museum adalah ruang pemutaran audio visual, dimana di sana pengunjung bisa menyaksikan pemutaran festival layang-layang di berbagai daerah, teknik menerbangkan layang-layang, baik layang-layang kreasi, olahraga maupun layang-layang tradisional,” jelas Nai, Selasa (20/11).

Selain itu, imbuh Nai, di komplek museum juga terdapat ruang pamer batik, yang dimana batik-batik itu adalah koleksi pribadi milik pendiri museum, Endang W. Puspoyo. Juga tedapat beberapa fasilitas lain seperti mushola, kantin serta rumah budaya yang kerap menjadi tempat pembuatan layang-layang berbagai jenis.

Ingin tahu koleksi layang-layang yang ada di museum ini? Terus ikuti perjalanan kami.

Penulis: Feryanto Hadi
Editor: Rendy Adrikni Sadikin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved